AKAS ORGANIK
Kamis, 14 Juni 2018
Akas Organik : Transformasi dari Bebek Akas
Dunia ini dinamis. Dan mau tak mau, kami pun harus mengikutinya. Tidak harus dengan langkah yang terlalu bergegas. Walaupun hanya setapak demi setapak, namun kami yakin bahwa perubahan itu akan memberikan kebaikan.
Cikal bakal usaha yang dulunya bernama Bebek Akas, kini harus bertransformasi menjadi Akas Organik. Karena bidang yang dirambah semakin meluas. Jadi tidak hanya bergerak di dunia per-bebek-an. Tapi juga pada ayam, yang cara pemeliharaannya tetap dengan menggunakan sistem organik.
Logo Bebek Akas sendiri, sempat mengalami dua kali penyempurnaan. Semua itu tak lepas dari keinginan untuk mewujudkan sebuah idealisme yang tertanam di benak.
Semoga dengan langkah-langkah kecil ini, perjalanan bisa kami tempuh semakin jauh.
Terimakasih kepada semua kawan dan relasi, yang sudah mendukung penuh dalam perjuangan dan perjalanan kami. (rud/phie)
Review Kuliner Jombang : Nasi Jagung Mak Lilik
![]() |
| Tampilan lengkap Nasi Jagung Mak Lilik Pasar Legi Jombang |
Entah sudah berapa kali saya makan hidangan 'ndeso' ini. Yang jelas sudah lebih dari jumlah jari yang melengkapi dua tangan. Untuk mendapatkannya pun harus melalui sebuah perjuangan tersendiri. Alias antrinya yang mana tahan. Jam bukanya pun sangat singkat. Mulai menggelar dagangan sekitar jam 6 sore. Dan sudah menutup lapaknya ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Tak jarang pula, sudah harus tutup sebelum jam tersebut.
Senyatanya, bentuk sajian olahan tangan Mak Lilik (76 tahun) ini tidaklah kelihatan mewah. Hanyalah nasi jagung, yang bisa dicampur nasi putih, tergantung selera pembeli, yang dilengkapi dengan beberapa 'ubarampe'nya. Antara lain sambal tumpang yang luar biasa pedas, sayur lodeh dengan bahan berganti-ganti setiap harinya, urap daun singkong dan pepaya, lalapan lamtoro dan krai yang dicacah, serta rempeyek teri atau ikan asin yang dikenal sebagai 'klotok'.
Yang membuat hidangan ini sangat berbeda adalah pada kelembutan nasi jagungnya. Unsur nasi jagungnya menyatu, punel, alias tidak berhamburan. Begitu juga dengan rempeyeknya. Jangan membayangkan jenis rempeyek tipis seperti yang umum dijumpai dalam rangkaian nasi pecel. Rempeyek ala Mak Lilik ini justru tebal dan keras. Ukurannya pun relatif lebar, dengan isian seekor ikan klotok di tengahnya. Walaupun tampilannya keras saat digigit, tapi uniknya rempeyeknya justru yang bikin kangen. Selidik punya selidik, ternyata rempeyeknya ini terbuat dari campuran tepung tapioka dan tepung jagung. Bukan dari tepung beras.
Lokasi jualan Mak Lilik memang sangat sederhana. Hanya memanfaatkan emperan ruko di kompleks Pasar Legi Jombang, dan gelaran dua buah meja yang tidak terlalu besar. Kalau hendak makan di tempat, cukup dengan lesehan di atas tikar yang ada. Tapi percayalah, tampilan kesederhanaan itu jauh terbayar dengan rasa yang aduhai mantap. Pun dengan pedasnya yang menggigit lidah, dan bisa mengoyak ketenangan perut bagi yang sensitif dengan rasa cabe.
Perjalanan panjang Mak Lilik dalam membesarkan nasi jagung ini bermula pada tahun 1997. Yaitu dengan membuka lapak kecil di Pasar Peterongan, Jombang, pada malam hari. Awal berjualan, tidak seramai sekarang. Bahkan tak jarang dagangan yang tak habis harus dibuang. Namun sosok Mak Lilik pantang menyerah, ia tetap konsisten di jalur yang sudah menjadi keyakinannya. Tanpa kenal lelah dan tiada henti, karena tidak punya hari libur, terus mengenalkan produk yang dipunyai.
Tahun 2011 Mak Lilik melebarkan sayap ke wilayah Jombang kota, dengan mencari tempat di Pasar Legi. Lapak yang berada di Pasar Peterongan diserahkan kepada anak perempuannya, yang juga masih eksis hingga kini. Jam operasionalnya pun sama. Dimulai sehabis magrib.
Seporsi nasi jagung ini hanya dibanderol dengan harga 5 ribu rupiah. Tapi porsi yang didapat sungguhlah tidak setara dengan harganya. Saya terus terang tidak sanggup menghabiskannya dalam sekali makan. Sehingga solusinya adalah membagi dua, separuh saya simpan. Besok paginya dihangatkan lagi. Walaupun begitu, tak mengurangi 'kelekohannya' (saya kurang bisa memadankan istilah 'lekoh' ke dalam Bahasa Indonesia).
Dan, bisa disebut bahwa nasi jagung ini merupakan salah satu rujukan kuliner malam di kota Jombang, yang namanya cukup melegenda.
Terbukti, malam itu, saat saya menyambangi lapak Emak di sekitaran jam 9 malam, lesehannya penuh dengan pengunjung. Entah dari wilayah Jombang bagian mana, para bapak-bapak bersarung dan berkopiah itu sedang asyik menikmati nasi jagung, diatas piring plastik yang dialasi daun pisang. Mereka datang serombongan, dengan mengendarai sebuah mobil bak terbuka. (phie)
![]() |
| Pengunjumgmya dari berbagai kalangan |
![]() |
| Mak Lilik tetap sehat dan bersemangat bekerja |
Bebek Toraja : Menu Andalan Bebek Akas
Tiap-tiap warung, resto, ataupun tempat makan, pastilah punya menu andalan untuk disajikan kepada para tamunya. Kami pun ingin seperti itu. Karena peliharaan yang kami punyai adalah bebek, maka kami pun berusaha mewujudkan masakan bebek sebagai ikonnya. Dengan catatan, menu bebek tersebut harus berbeda dengan yang sudah ada di pasaran . Dan ini memang bukan perkara yang mudah.
Berkecimpung dalam dunia jurnalistik yang cukup lama, membuat kami berdua sering berkunjung ke banyak tempat. Dan ketika berada di suatu daerah, sudah bisa dipastikan kalau kami akan menemui makanan yang enak dan terkenal disitu. Dan yang lebih enak lagi, itu sering kami dapatkan dari jamuan relasi atau kawan yang tinggal di daerah tersebut. Sehingga bisa disimpulkan kalau menu enak itu sudah pasti recommended. Tidak asal pilih tempat makan, yang rasa masakannya belum menentu.
Maka, dalam mengelola Bebek Akas ini, setidaknya kami bercermin dari beberapa hal yang sudah sempat kami temui di banyak kota dan tempat itu. Yaitu harus bisa menyajikan makanan yang enak, dan tentunya berbeda dengan yang sudah ditawarkan oleh berbagai tempat makan yang ada. Tantangan yang sungguh sangat tidak mudah.
Satu ikon yang sengaja kami angkat sebagai menu andalan dari Bebek Akas adalah Bebek Toraja. Mengapa kami menamainya demikian? Senyatanya, ramuan bumbu menu itu memang kami dapatkan dari adik ipar kami, yang asli dari Kota Rantepao, Tana Toraja. Tentang kefavoritan terhadap menu ini pun sudah terbukti pula. Kala ada acara kumpul dengan keluarga besar, masakan yang satu ini selalu tampil di meja makan. Dan selalu berakhir dengan piring kosong alias licin tandas. Berangkat dari situlah, kami lantas ingin membagikan ‘kehebohan rasa’ makanan ini kepada khalayak umum.
Kami menamainya Bebek Toraja, karena ingin pula memberikan apresiasi dan penghormatan kepada orang-orang yang berjasa dalam meramu, menemukan danmengembangkan bumbu ini. Yang jelas, di Toraja sana, menu yang seperti ini sudah jamak ditemui. Tapi karena harus tampil disini, maka menunya sudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada disini. Maka dari itu kami mengklaimnya sebagai menu Bebek Toraja by Bebek Akas.
Meskipun demikian, bumbu toraja yang kami tampilkan tidak terlalu banyak bergeser dari aslinya. Hanya sedikit penyempurnaan. Yang menjadi ciri khasnya adalah bumbu yang kaya dengan rempah-rempah. Dominasi bahan serai dan lengkuas sungguh berasa. Selain paduan keharuman jahe, daun jeruk purut dan daun salam, masih pula didukung oleh cabe giling yang lumayan aduhai tingkat kepedasannya.
Secara visual, bumbu ini memang kurang menarik. Hanya berwarna kuning kemerahan, karena efek dari kunyit dan cabe giling. Namun untuk pemuja makanan pedas, bisa jadi menu toraja ini merupakan pilihan yang tepat. Sekali menyuapkan nasi hangat yang sudah dicampur sedikit bumbu, suapan berikutnya seolah tak tertahankan. Selalu menerbitkan air liur jika membayangkannya, walaupun dimakan tanpa disertai daging bebek pun. Sungguh, inilah makanan nikmat.
Satu lagi yang menjadi pembeda di menu ini. Yaitu potongan daging bebeknya dibikin kecil-kecil. Sementara yang umum dijumpai di sini, seekor bebek biasa dibagi menjadi empat bagian. Jadi jangan berharap menemukan daging bebek dalam potongan besar kalau memesan menu toraja ini. Karena dibikin potongan kecil itu ada pula kelebihan yang didapatkan. Dagingnya menjadi sangat empuk, dan bumbunya sungguh meresap. Padahal selama ini ada sebuah stigma yang kurang enak, yang mengatakan bahwa daging bebek itu alot. Kadang-kadang juga berbau amis atau ‘lebus’. Di menu bebek toraja, semua stigma buruk itu ditepis dan dilibas habis.
Ada satu kebiasaan lucu dan unik yang kerap kami lakukan tanpa tersadari. Terjadinya setiap kali saya selesai membuat bumbu toraja. Ketika bumbu yang tanak sudah ditempatkan didalam suatu wadah, bekas wajan untuk menumis bumbu tersebut langsung diberi nasi. Dicampurlah nasi tersebut dengan sisa bumbu yang lengket di wajan. Tanpa memindahkannya ke piring, nasi dari wajan itu langsung berpindah ke perut. Hhhhmmm, nikmatnya tak terkira. Meskipun hampir setiap hari membuat dan bertemu dengan bumbu toraja, tapi hingga detik ini, saya dan suami belum pernah merasa bosan dengan sensasinya yang tak tergambarkan dengan kata-kata. Maka, cobalah menu bebek toraja milik Bebek Akas ini. (phi)
Bermain Dengan Bakteri
Tanpa
bantuan yang satu ini, mungkin kami juga akan mengalami banyak sekali
kerepotan. Yang jelas dengan menggunakan bahan yang bernama probiotik ini,
banyak sekali kegiatan terbantu. Baik itu untuk pertanian, peternakan maupun
perikanan secara organik.
Untuk probiotik, awalnya kami
memilih produk EM-4. Probiotik ini sudah tenar sekali namanya. Saya pikir,
semua petani pasti sudah mengenalnya. EM-4 ini pertama kali ditemukan oleh
Prof. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus Jepang.
Probiotik berisi bakteri
pengurai. Untuk masing-masing kegunaan, kandungan bakterinya berbeda-beda. Jadi
kalau membeli di toko pertanian harus menyebutkan secara jelas. Misalnya EM-4
untuk perikanan, peternakan atau pertanian.
Awalnya kami memakai probiotik
EM-4 ini. Tapi karena menangani banyak bidang, jadinya agak sedikit ribet.
Harus stok probiotik untuk kandang, kolam dan tanaman. Itu pun kemasannya hanya
dalam botol per satu liter. Padahal dalam sehari penggunaan probiotik banyak
sekali. Hingga akhirnya kami menemukan alternatif lain.
Namanya Growbac. Sama-sama
probiotik, namun kandungan bakterinya ada yang sedikit berbeda. Tapi pada
prinsipnya tetap sama. Bedanya lagi, yang ini bisa diproduksi massal. Dan jika
dilihat dari segi harga, sangat jauh lebih murah. Dengan ketersediaan probiotik
yang tak terbatasi itu, kami bisa lebih agak leluasa. Karena tidak harus setiap
hari membuat kultur biakannya.
Sebungkus Growbac, bisa digunakan
untuk dua kali kultur. Dalam sekali biakan, menggunakan wadah drum berkapasitas
kurang lebih 150 liter. Growbac yang berbentuk serbuk itu harus diaktifkan dulu
dengan 1,5 liter tetes. Diperam selama tiga hari. Setelah tiga hari sudah bisa
langsung digunakan. Kalau menggunakan probiotik yang ini, kami tidak lagi
membedakan penggunaannya. Bisa untuk kolam, kandang ataupun tanaman.
Aplikasi probiotik untuk kolam
langsung mencampurkannya ke dalam air kolam. Setidaknya dalam tiga hari sekali
kami menambahkan probiotik setengah ember ke dalam masing-masing petak kolam.
Kegunaan probiotik di kolam ini untuk menguraikan sisa-sisa makanan yang tidak
termakan oleh ikan. Juga untuk menurunkan kadar amonia di dalam air. Amonia
yang tinggi menyebabkan kolam bermasalah, dan mempertinggi angka mortalitas
pada ikan.
Untuk kandang, probiotik diberikan
ke dalam air minum bebek dan ayam. Makanan unggas kami tinggi protein (berasal
dari ampas tahu dan ikan rucah). Protein yang tidak tercerna inilah yang
menyebabkan bau kandang, yang asalnya dari kotoran unggas. Jika minuman
ditambahkan probiotik, akan membantu pencernaan mereka, sehingga protein yang
terserap akan lebih maksimal. Probiotik juga digunakan untuk menyemprot area kandang.
Untuk pertanian, probiotik biasa
dipakai dalam proses pembuatan pupuk. Selain kadangkala juga untuk menyiram
tanaman. Istri saya terbiasa memisahkan sampah dapur. Dari sampah basah itulah
yang kami gunakan untuk pupuk. Bahan-bahan dimasukkan ke dalam ember bertutup
rapat, yang di bagian bawahnya sudah dilubangi dan diberi kran. Kemudian timbunan
sampah basah tersebut disiram dengan
larutan probiotik secara berkala.
Walaupun setiap hari diisi sampah
baru, tapi lapisan yang sudah terkena probiotik akan terurai dan ketinggiannya
menurun. Bila ember sudah penuh harus dibongkar, dan sampah yang sudah terurai
tadi bisa digunakan untuk pupuk, atau ditanam di tempat-tempat yang berdekatan
dengan tanaman. Sementara itu, selama belum dibongkar, peraman sampah itu juga
menghasilkan pupuk cair. Seminggu sekali pupuk cair dipanen. Kemudian dicampur
dengan air, dan digunakan untuk menyiram tanaman. (rud)
![]() |
| Tetes untuk membangunkan bakteri yang tidur |
Fermentasi Ampas Tahu
Salah satu komponen penyusun pakan (dengan sistem organik ala Bebek Akas) adalah ampas tahu. Bahan ini menyumbangkan kadar protein tertinggi, selain dari komponen ikan rucah. Karenanya ketersediaan ampas tahu ini harus selalu berjalan berkesinambungan.
Untuk mendapatkan ampas tahu memang tidak bisa setiap hari. Walaupun tempat tinggal kami tidak terlalu jauh dari pabrik tahu, tapi harus menyediakan waktu khusus untuk berangkat kesana. Karenanya dijadwalkan dalam seminggu hanya dua kali pengambilan.
Untuk menyiasati agar ampas tahu bisa bertahan hingga tiga hari, maka perlu membuang kadar air yang masih terkandung di dalam ampas. Awalnya kami hanya memerasnya secara manual dengan tangan. Ampas dibungkus dengan kain, kemudian dikeluarkan airnya. Seperti layaknya memeras cucian. Hehehe… sangat manual (saya suka tersenyum sendiri kala mengingatnya). Dan tentu saja hasil yang didapatkan pun tidak maksimal sama sekali.
Kemudian ada pikiran untuk membuat semacam alat pres. Prinsipnya, ampas dibungkus dengan kain, kemudian dipres diantara dua papan. Hasilnya ampas menjadi sangat lebih kering. Tapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah kapasitas produksi yang tidak bisa terpenuhi. Karena papan presnya yang terlalu kecil. Dan untuk melakukan pekerjaan memeras ampas itu butuh waktu yang relatif lama.
Akal pun berkembang. Untuk menyingkat waktu dan mempermudah pekerjaan, atas prakarsa Bapak pula, kami membuat alat pres khusus dengan kapasitas yang lebih besar. Dibuat dari drum bekas, yang diinstalasi sedemikian rupa, sehingga menghasilkan alat pres yang sangat lebih memadai hasil produksinya. Dalam sekali kerja, setidaknya sudah bisa menghasilkan 20 kg ampas kering. Luar biasa kemajuannya.
![]() |
| Alat pres ampas tahu sederhana |
![]() |
| Dengan alat ini bisa menghasilkan minimal 20 kg ampas tahu kering |
Ampas kering yang dihasilkan itu akan berumur lebih panjang dengan fermentasi. Selain itu, ada keuntungan lain yang didapatkan dari perlakuan fermentasi. Protein yang terkandung di dalam ampas tahu akan dipecah-pecah menjadi komponen yang lebih sederhana lagi. Dengan begitu, akan lebih mudah dicerna oleh bebek maupun ayam. Penyerapan nutrisi pun berjalan maksimal.
Untuk perlakuan fermentasi gampang saja. Alat yang diperlukan hanya ember yang mempunyai tutup rapat. Perlu ada sedikit lubang saja pada tutupnya. Saya menggunakan ember bekas cat. Satu ember bisa menyimpan kurang lebih 10 kg ampas kering.
Setelah ampas tahu dipres, harus dibuat lepas. Hambur. Tidak boleh ada yang lengket satu sama lain. Untuk ragi, saya menggunakan ragi tape. Bisa merk apa saja. Tapi yang sering ditemui di pasar adalah NKL atau jalak. Untuk 10 kg ampas kering, diperlukan 7-8 butir ragi. Ragi dihaluskan dulu, kemudian ditaburkan ke atas ampas dan dicampur hingga merata.
![]() |
| Ampas tahu yang sudah kering |
![]() |
| Ampas yang sudah diragi diperam selama minimal dua hari |
![]() |
| Tutup ember diberi lubang sedikit saja |
Ampas yang sudah diragi dibiarkan dalam kondisi tertutup paling sedikit 2 hari, sebelum diberikan untuk pakan. Saat menyimpan ampas tidak boleh dipadatkan. Ciri jika proses fermentasi berhasil, akan mengeluarkan wangi seperti tape. Kondisi ampas tahu menjadi hangat. Yang perlu diperhatikan, ampas hasil fermentasi untuk pakan tidak boleh berumur lebih dari empat hari. Karena akan berair dan baunya sangat menyengat.
Dan menurut pengalaman saya, jika ampas tahu difermentasikan dahulu, bisa menambah nafsu makan pada bebek dan ayam. Hhhmmmm……lantas saya menyama-nyamakan dengan diri saya. Bila membayangkan tempe yang baru saja diangkat dari penggorengan. Atau tape ketela pohon yang legit. Tak pelak air liur ini rasanya sudah menggantung di sudut bibir. Sama-sama produk fermentasi kan? (rud)
Sistem Organik Harus Berani Kotor
Sedikit nyontek kredo iklan sebuah deterjen yang merknya sudah ngetop di Indonesia. Berani kotor itu baik. Saya sangat setuju dengan ungkapan kredo itu. Yang jelas, jika ungkapan itu diaplikasikan pada metode organik yang kami anut, maka sungguh klop dan klik.
Produk bahan pangan organik, terutama di kota-kota besar, untuk sekarang ini menjadi sebuah barang mahal. Tingginya penghargaan konsumen (yang mengerti tentang sistem organik) tak lepas dari proses dan pemeliharaan yang memang tidak mudah. Selain pula waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil (panen) relatif lebih lama.
Dalam metode organik banyak hal yang dibiarkan terjadi alami begitu saja. Tanpa perlakuan dan tanpa rekayasa. Karenanya tak berlebihan jika kami mengatakan kalau bertani (atau beternak) ala organik itu harus mau sedikit repot dan berani bermain dengan yang kotor-kotor. Gambarannya mungkin seperti ini. Jika peternak yang tak mau repot, maka peliharaannya cukup diberi makan pellet atau makanan pabrikan. Cukup ambil pakan kering dari dalam karung, distribusikan, beres sudah. Tinggal menyesuaikan dengan jadwal pemberian pakan, berapa kali dalam sehari. Praktis.
![]() |
| Suplai sayur-sayuran langsung dari pasar |
Coba bandingkan dengan yang kami lakukan. Bahan mentah kami dapatkan dari pasar. Kita pilah antara ikan rucah dan sisa dari pedagang ayam. Sedangkan sayuran dicacah dalam ukuran kecil. Setelah itu dicuci dan dimasak dulu. Ketika ikan atau sayur sudah mendidih, dicampur dengan ampas tahu atau dedak atau slamper (gilingan bonggol jagung) atau bahan lainnya. Setelah itu baru didistribusikan ke kandang bebek, ayam dan kolam ikan.
Ribet? Sudah pasti. Kotor? Tentu saja. Sebab harus bergulat dulu dengan ikan (yang baunya amis) dan sayur-sayur yang terkadang sudah ada beberapa bagian yang membusuk. Tapi dari segi keamanan makanan, kami lebih dari segala-galanya jika dibandingkan dengan pakan kering pabrikan yang masa simpannya pasti sudah lebih dari dua hari (saya berani taruhan untuk hal ini). Sementara pakan ramuan sendiri, langsung habis dalam sekali makan. Tak bersisa. Sehingga tiap kali pakan hendak disajikan selalu ‘fresh from the pawon’ (karena kami memasaknya dengan tungku atau luweng, seperti di dapur embah saya dulu).
![]() |
| Fresh from the pawon yang sebenar-benarnya |
Begitulah salah satu konsekuensi dari sistem organik. Repot memang. Tapi kami tak menyesal, karena kami tahu apa yang kami lakukan itu sesuai dengan idealisme kami. Tentang penghargaan? Terserahlah kepada mereka yang menilainya. Yang jelas, semakin hari akan semakin banyak orang yang sadar bahwa gaya hidup organik lebih menyehatkan. Dan kami sudah memulainya. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan di lingkungan sendiri dulu, sebelum beranjak pada produksi massal. Semoga. (rud)
Petani Inovatif atau Pelit?
Sebelum berangkat menjemput sekolah si sulung Bram, suami saya berpesan untuk menitip beli koleridin, treatment untuk kolera unggas. Sepulang dari poultry shop, saya membuka-buka free magazine dari Medion yang saya ambil tadi. Mata saya langsung tertambat pada kolom salam redaksi, dengan judul berhuruf kapital dan diblok warna merah. Harga Pakan Naik. Gara-garanya karena badai topan Elnino.
Hhmmm… dalam hati saya tersenyum. Ini namanya anugerah untuk kami. Bagaimana tidak. Di saat banyak petani (peternak) dibuat bingung dan susah dengan harga pakan yang terus melambung, kami tidak ikut-ikutan terkena dampaknya? Mengapa begitu? Ya, karena kami menerapkan sistem organik.
Bebek, ayam, dan ikan-ikan yang kami pelihara tidak pernah mengenal pakan pabrikan, yang notabene berharga lumayan mahal (menurut ukuran kantong kami). Betapa tidak. Kalau saja boleh berhitung, untuk sekarang ini, satu sak pellet untuk lele, seberat 25 kg, harganya sekitar 250-300 ribu. Itu pun habis dalam waktu 10-14 hari. Jadi dalam sebulan harus mempunyai stok 3 karung. Secara kasar sudah kelihatan uang yang harus dikeluarkan sebesar 750-900 ribu. Padahal paling tidak perlu waktu 3 bulan untuk panen lele. Belum lagi kalau masih ditambah hitungan untuk pakan yang harus diberikan pada bebek dan ayam. Yah, silakan dikalkulasi sendiri.
Kembali lagi ke soal kolom salam redaksi tadi. Disitu dijelaskan kalau harga pakan melambung cukup tinggi karena bahan-bahan untuk pembuatan pakan tersebut masih didatangkan dari negerinya Paman Sam. Akibat badai Elnino, tanah pertanian yang ditanami jagung banyak yang tidak menghasilkan. Demikian juga dengan ketersediaan tepung ikan yang kian sulit didapat. Banyak perahu tidak bisa melaut karena angin besar itu.
Sekali lagi kami bersyukur (semoga tidak menjadikan kami takabur) dengan kenyataan ini. Terus terang, untuk pakan kami memang berusaha sebisa mungkin memanfaatkan sumberdaya yang kami miliki sendiri. Namun bukan berarti kami mau semuanya gratisan. Tidak. Di kebun belakang banyak pohon pisang. Biasanya setelah berbuah, pohonnya ditebang. Inilah yang kami manfaatkan sebagai pakan untuk bebek. Belum lagi keberadaan tanaman keladi yang lumayan banyak. Itu juga bisa sebagai alternatif sumber bahan pakan.
Dengan beberapa pedagang di pasar, kami membina hubungan baik dan timbal balik. Antara lain dengan penjual ikan, ayam dan sayuran. Dari mereka kami mendapatkan sampah ikan, ayam dan sayuran secara gratis. Mereka merasa sangat terbantu karena dengan begitu mengurangi kewajibannya untuk membuang sampah ke tempat khusus. Bahkan kalau ada dagangan ikan yang rusak dan tidak layak konsumsi, kami selalu mendapatkan tawaran terlebih dahulu. Dan bisa membelinya dengan harga sangat murah. Dua pabrik tahu yang berdekatan dengan tempat tinggal kami juga menjadi mitra, untuk memperoleh ampas tahu. Begitu juga dengan dedak, bisa kami beli dengan harga miring, langsung dari penggilingan padi.
Sumber-sumber itulah yang kami olah sedemikian rupa. Tentu saja dengan tidak mengurangi perhatian pada komposisi pakan yang seharusnya. Tetap proporsional memperhatikan asupan karbohidrat dan protein. Yang pasti, pakan selalu fresh, segar, karena langsung berasal dari pasar setiap hari. Dan lagi, semua bahan itu dimasak terlebih dahulu sebelum disajikan kepada para unggas dan ikan. Sehingga mengurangi resiko penyakit pada peliharaan.
Hasilnya? Luar biasa. Seorang kawan yang sempat bertandang ke rumah sempat terheran-heran. “Walah, bebekmu cik gedene. Meneh iki doromu kok lemu pisan.” (Walah, bebek kepunyaanmu ukurannya besar sekali. Apalagi burung dara ini, juga gemuk). Kami pun tertawa lebar. Sepasang burung dara (yang entah dari mana datangnya) dan tinggal menetap di atas pohon mangga, selalu terbang turun kala kami sedang meramu pakan. Mungkin hidungnya mencium bau-bau enak. Dan selalu hinggap di bak pakan, menjadi penikmat perdananya. (phie)
![]() | |
|
![]() | |
|
Karya Nyata itu Bernama Bebek Akas
Bebek Akas. Nama itu spontan saja muncul di kepala. Mengapa pakai nama itu? Alasannya sederhana saja. Karena saya adalah anaknya Pak Pantoro Akas, pelontar ide untuk memelihara bebek. Beliaulah yang mendukung semua kegiatan usaha kami di bidang pertanian organik. Ide dan saran seringkali terlontar dari Bapak, begitu kami menyapa beliau, untuk keluar dari masalah yang selalu kami hadapi. Dari pengalamannya kami banyak belajar tentang ‘kembali ke alam’.
Bapak, yang seorang pendidik hingga di akhir masa pensiun, memang terlahir dari keluarga petani biasa. Ayahnya (embah kakung saya), Yesaya Akas, seorang petani yang sederhana di Segaran, sebuah desa kecil di wilayah Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Namun dari hasil pertaniannya itu (dan pastinya pertanian organik), bisa mengangkat 12 orang anaknya menjadi ‘orang’. Sungguh luar biasa….. Demikian juga dengan ayahnya embah kakung saya (buyut saya), Asikiyo Akas. Juga seorang petani tulen. Yang luas lahan garapannya, entahlah tak terhitung. Sehingga, kalau saya boleh bangga, saya punya garis darah keturunan petani handal. Maka sekarang saya harus bisa mewujudkan ide pertanian organik.
Diawali dengan membuat kolam lele dan gurami. Hingga merambah ke dunia peternakan bebek dan ayam, dan pengolahan hasilnya. Disamping terus mengembangkan pertanian organik bertanam cabai, dan memelihara tanaman lain yang memang sudah ada sebelumnya. Bisa dikatakan, bahwa usaha ini sebenarnya sudah terlebih dulu diawali oleh Bapak. Tapi karena hanya didasarkan pada hobi semata, dan untuk mengisi waktu senggangnya ketika sudah pensiun, pengelolaannya jadi kurang optimal.
Maka jadilah. Diatas lahan yang hanya seluas 600 meter persegi, kami pun mulai menata ulang segala sesuatunya. Waktunya sungguh tidak singkat. Dan namanya saja perjuangan. Keringat dan air mata silih berganti menghiasi. Itulah manisnya cerita ketika sudah berhasil nantinya. Tapi untuk sekarang yang penting bekerja, bekerja, bekerja dan berdoa.
Pekerjaan yang dilakoni pun tak sedikit. Mulai dari mengurus kolam, menata kandang dan mencukupi suplai pakan untuk bebek dan ayam, pengelolaan tanah dan sampah rumah tangga untuk pupuk, hingga pengolahan pasca panen. Semua berusaha kami lakukan sendiri. Istilahnya usaha hulu hilir digarap semua. Itulah mengapa semboyannya adalah kerja, kerja dan kerja. Ya, karena memang banyak yang harus dikerjakan. Kalau satu bagian pekerjaan tidak dikerjakan, akan menghambat kerja bagian yang lain. Karena semuanya ada saling keterkaitan.
Ketika urusan perawatan hingga panen bisa teratasi. Dalam arti apa yang dipelihara sudah menghasilkan, yang menjadi pergumulan selanjutnya adalah pemasarannya. Tak pernah terpikir oleh saya sebelumnya, kalau sang petani benar-benar tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Maksudnya begini. Ketika akan menjual hasil panen, harga yang dibayarkan kepada petani adalah harga yang ditentukan oleh pembeli, dalam hal ini bisa tengkulak atau pengepul. Sang petani sendiri tak berdaya menentukan harga jual produknya sendiri. Ironis bukan?
Sekali waktu, pernah kami menjual beberapa ekor hasil panen bebek ke pasar unggas. Untuk mengetes harga pasar. Perkiraan kami, seekor bebek bisa laku sekitar 35 ribu. Tapi kenyataan yang kami dapati, bebek-bebek itu hanya ditawar 20 ribu per ekor. Paling besar malah hanya ditawar 22 ribu. Padahal berat bebek kami ada di kisaran 1-1,5 kg per ekor. Kami berdalih kalau bebek kami adalah bebek organik. Tapi jawabannya apa? “Kalau tidak mau harga segitu ya dibawa pulang saja bebeknya.” Hhhhhhmmm…. Sang petani harus berbuat apa? Tapi sebaliknya, dengan ukuran yang sama seperti bebek kami, pedagang unggas menjual kembali dengan harga 30-35 ribu per ekor.
Lain waktu ganti panen lele. Kasusnya hampir sama. Kami ke pasar dulu mencari pembeli. Disepakati, pedagang mau dengan harga beli 13 ribu per kilo. Kami pun pulang, menguras kolam lele, dan membawanya ke pasar. Sampai di tempat, setelah melihat barangnya, lele kami pun dibeli dengan harga 12 ribu per kilo. Dengan dalih lele kami tidak seperti bayangannya. Harga itu pun hanya untuk lele yang berukuran besar, yang jumlahnya hanya beberapa kilo. Sedangkan sisanya hanya dihargai 11 ribu per kilonya.
Parahnya lagi, saat kami masih bertransaksi itu, sudah datang pembeli. Pedagang lele itu pun menawarkan lele kami. Tanpa melihat ukuran besar kecilnya, dijuallah dengan harga 20 ribu, bahkan lebih, per kilonya. Dalam hati, kami sangat sangat dongkol. Dan lebih menyakitkan lagi, di pasar tidak berlaku aturan ini bahan pangan organik atau bukan organik. Semua dipukul rata. Nah bisa dibayangkan bagaimana kerja keras dan idealisme tentang bahan pangan organik, dipatahkan oleh pasar begitu saja.
Belajar dari situlah, kami bertekad untuk mengolah sendiri hasil panen kami. Tentu saja dengan sangat mengedepankan label organik. Karena memang itulah tujuan utama kami. Dimulai dengan membuat olahan daging ayam dan bebek organik. Kemudian disusul dengan lele dan gurami.
Terakhir, kami sedang bereksperimen dengan telur asin bebek yang diberi berbagai macam perlakuan. Seperti diasap, dipanggang, dibakar ataupun diberi beberapa rasa. Dan yang pasti, label telur organik terus melekat.
Untuk pengolahan hasil pasca panen, Bebek Akas menjadi wadahnya. Walaupun sekarang ini sistem penjualan masih secara online, dan masih terbatas wilayah edarnya, tapi kami sangat percaya bahwa apa yang kami idealismekan ini sedikit demi sedikit menampakkan hasilnya. Bebek Akas menjadi tumpuan harapan. Kami menggantung cita-cita dan mimpi bersamanya. (phie)
Bapak, yang seorang pendidik hingga di akhir masa pensiun, memang terlahir dari keluarga petani biasa. Ayahnya (embah kakung saya), Yesaya Akas, seorang petani yang sederhana di Segaran, sebuah desa kecil di wilayah Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Namun dari hasil pertaniannya itu (dan pastinya pertanian organik), bisa mengangkat 12 orang anaknya menjadi ‘orang’. Sungguh luar biasa….. Demikian juga dengan ayahnya embah kakung saya (buyut saya), Asikiyo Akas. Juga seorang petani tulen. Yang luas lahan garapannya, entahlah tak terhitung. Sehingga, kalau saya boleh bangga, saya punya garis darah keturunan petani handal. Maka sekarang saya harus bisa mewujudkan ide pertanian organik.
Diawali dengan membuat kolam lele dan gurami. Hingga merambah ke dunia peternakan bebek dan ayam, dan pengolahan hasilnya. Disamping terus mengembangkan pertanian organik bertanam cabai, dan memelihara tanaman lain yang memang sudah ada sebelumnya. Bisa dikatakan, bahwa usaha ini sebenarnya sudah terlebih dulu diawali oleh Bapak. Tapi karena hanya didasarkan pada hobi semata, dan untuk mengisi waktu senggangnya ketika sudah pensiun, pengelolaannya jadi kurang optimal.
Maka jadilah. Diatas lahan yang hanya seluas 600 meter persegi, kami pun mulai menata ulang segala sesuatunya. Waktunya sungguh tidak singkat. Dan namanya saja perjuangan. Keringat dan air mata silih berganti menghiasi. Itulah manisnya cerita ketika sudah berhasil nantinya. Tapi untuk sekarang yang penting bekerja, bekerja, bekerja dan berdoa.
Pekerjaan yang dilakoni pun tak sedikit. Mulai dari mengurus kolam, menata kandang dan mencukupi suplai pakan untuk bebek dan ayam, pengelolaan tanah dan sampah rumah tangga untuk pupuk, hingga pengolahan pasca panen. Semua berusaha kami lakukan sendiri. Istilahnya usaha hulu hilir digarap semua. Itulah mengapa semboyannya adalah kerja, kerja dan kerja. Ya, karena memang banyak yang harus dikerjakan. Kalau satu bagian pekerjaan tidak dikerjakan, akan menghambat kerja bagian yang lain. Karena semuanya ada saling keterkaitan.
Ketika urusan perawatan hingga panen bisa teratasi. Dalam arti apa yang dipelihara sudah menghasilkan, yang menjadi pergumulan selanjutnya adalah pemasarannya. Tak pernah terpikir oleh saya sebelumnya, kalau sang petani benar-benar tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Maksudnya begini. Ketika akan menjual hasil panen, harga yang dibayarkan kepada petani adalah harga yang ditentukan oleh pembeli, dalam hal ini bisa tengkulak atau pengepul. Sang petani sendiri tak berdaya menentukan harga jual produknya sendiri. Ironis bukan?
Sekali waktu, pernah kami menjual beberapa ekor hasil panen bebek ke pasar unggas. Untuk mengetes harga pasar. Perkiraan kami, seekor bebek bisa laku sekitar 35 ribu. Tapi kenyataan yang kami dapati, bebek-bebek itu hanya ditawar 20 ribu per ekor. Paling besar malah hanya ditawar 22 ribu. Padahal berat bebek kami ada di kisaran 1-1,5 kg per ekor. Kami berdalih kalau bebek kami adalah bebek organik. Tapi jawabannya apa? “Kalau tidak mau harga segitu ya dibawa pulang saja bebeknya.” Hhhhhhmmm…. Sang petani harus berbuat apa? Tapi sebaliknya, dengan ukuran yang sama seperti bebek kami, pedagang unggas menjual kembali dengan harga 30-35 ribu per ekor.
Lain waktu ganti panen lele. Kasusnya hampir sama. Kami ke pasar dulu mencari pembeli. Disepakati, pedagang mau dengan harga beli 13 ribu per kilo. Kami pun pulang, menguras kolam lele, dan membawanya ke pasar. Sampai di tempat, setelah melihat barangnya, lele kami pun dibeli dengan harga 12 ribu per kilo. Dengan dalih lele kami tidak seperti bayangannya. Harga itu pun hanya untuk lele yang berukuran besar, yang jumlahnya hanya beberapa kilo. Sedangkan sisanya hanya dihargai 11 ribu per kilonya.
Parahnya lagi, saat kami masih bertransaksi itu, sudah datang pembeli. Pedagang lele itu pun menawarkan lele kami. Tanpa melihat ukuran besar kecilnya, dijuallah dengan harga 20 ribu, bahkan lebih, per kilonya. Dalam hati, kami sangat sangat dongkol. Dan lebih menyakitkan lagi, di pasar tidak berlaku aturan ini bahan pangan organik atau bukan organik. Semua dipukul rata. Nah bisa dibayangkan bagaimana kerja keras dan idealisme tentang bahan pangan organik, dipatahkan oleh pasar begitu saja.
Belajar dari situlah, kami bertekad untuk mengolah sendiri hasil panen kami. Tentu saja dengan sangat mengedepankan label organik. Karena memang itulah tujuan utama kami. Dimulai dengan membuat olahan daging ayam dan bebek organik. Kemudian disusul dengan lele dan gurami.
Terakhir, kami sedang bereksperimen dengan telur asin bebek yang diberi berbagai macam perlakuan. Seperti diasap, dipanggang, dibakar ataupun diberi beberapa rasa. Dan yang pasti, label telur organik terus melekat.
Untuk pengolahan hasil pasca panen, Bebek Akas menjadi wadahnya. Walaupun sekarang ini sistem penjualan masih secara online, dan masih terbatas wilayah edarnya, tapi kami sangat percaya bahwa apa yang kami idealismekan ini sedikit demi sedikit menampakkan hasilnya. Bebek Akas menjadi tumpuan harapan. Kami menggantung cita-cita dan mimpi bersamanya. (phie)
Generasi Bebek Akas
Tak berlebihan kalau kami mendedikasikan usaha ini untuk keluarga. Karena memang semuanya diawali dari dukungan keluarga. Dalam hal ini Bapaklah yang menjadi suporter terbesarnya. Beliau yang banyak punya ide tentang ini dan itu. Dari beliau pula, kami belajar banyak hal tentang hidup yang menyatu dengan alam, tidak ‘ngoyo’ (namun bukan berarti tidak bekerja keras), dan selalu bersyukur dalam segala hal, serta menikmati hidup dengan apa yang kita dapatkan sekarang.
Falsafah-falsafah itu berusaha kami pegang dan hayati, walaupun sekarang ini Bapak sudah berada di Rumah Tuhan. Dan Bebek Akas, yang bergerak di lingkup kuliner, setidaknya juga harus memenuhi spirit itu. Tak jauh berbeda dengan nafas pertanian, perikanan dan peternakan, yang mengedepankan label organik.
Bapak sendiri, gaya hidupnya sungguh-sungguh sehat dan tidak merokok. Ketika dipanggil Tuhan, beliau berusia 76 tahun. Selama rentang waktu itu, Bapak tidak pernah sakit yang sangat berarti. Paling-paling langganan tensi yang meninggi (karena faktor usia). Itupun cukup diredam dengan jus belimbing (yang biasa dipetik dari halaman belakang), dan hobinya makan lalapan ketimun. Sayuran dan buah-buahan menjadi santapan sehari-harinya. Jarang sekali mengonsumsi daging merah (daging sapi). Daging kambing menjadi musuh terbesarnya. Lebih memilih daging unggas dan ikan.
Saking sehatnya, ketika ada kabar Bapak meninggal, banyak tetangga yang terkejut. Seminggu sebelum akhir hayatnya, tidak menunjukkan firasat apa-apa. Hanya gara-gara batuk, lalu masuk rumah sakit, dan didiagnosa jantungnya membengkak. Seminggu di rumah sakit kesadarannya terus menurun, hingga akhirnya tepat tanggal 16 Maret 2015, kami harus merelakan Bapak pergi menghadap Sang Khalik.
Gaya hidup sehatnya itulah yang membuat kami terlecut untuk meneruskan semangatnya. Setidaknya dengan kehadiran Bebek Akas, semangat dari Bapak itu terus hidup dan akan menghidupi usaha ini. (phie)
Falsafah-falsafah itu berusaha kami pegang dan hayati, walaupun sekarang ini Bapak sudah berada di Rumah Tuhan. Dan Bebek Akas, yang bergerak di lingkup kuliner, setidaknya juga harus memenuhi spirit itu. Tak jauh berbeda dengan nafas pertanian, perikanan dan peternakan, yang mengedepankan label organik.
Bapak sendiri, gaya hidupnya sungguh-sungguh sehat dan tidak merokok. Ketika dipanggil Tuhan, beliau berusia 76 tahun. Selama rentang waktu itu, Bapak tidak pernah sakit yang sangat berarti. Paling-paling langganan tensi yang meninggi (karena faktor usia). Itupun cukup diredam dengan jus belimbing (yang biasa dipetik dari halaman belakang), dan hobinya makan lalapan ketimun. Sayuran dan buah-buahan menjadi santapan sehari-harinya. Jarang sekali mengonsumsi daging merah (daging sapi). Daging kambing menjadi musuh terbesarnya. Lebih memilih daging unggas dan ikan.
Saking sehatnya, ketika ada kabar Bapak meninggal, banyak tetangga yang terkejut. Seminggu sebelum akhir hayatnya, tidak menunjukkan firasat apa-apa. Hanya gara-gara batuk, lalu masuk rumah sakit, dan didiagnosa jantungnya membengkak. Seminggu di rumah sakit kesadarannya terus menurun, hingga akhirnya tepat tanggal 16 Maret 2015, kami harus merelakan Bapak pergi menghadap Sang Khalik.
Gaya hidup sehatnya itulah yang membuat kami terlecut untuk meneruskan semangatnya. Setidaknya dengan kehadiran Bebek Akas, semangat dari Bapak itu terus hidup dan akan menghidupi usaha ini. (phie)
![]() | |
|
![]() | |
|
![]() |
| Franciscus Radcliff Bramantyo Akas dan Franciscus Reinhardt Bhima Prasetya Akas keduanya junior dari Julianus Franciscus Rudianto & Francisca Puji Wismaningtyas Akas |
![]() | |
|
Petani Egois
Egois mempunyai arti hanya mementingkan dan memikirkan diri sendiri. Jadi pengertian tentang petani egois adalah petani yang hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa mau tahu apa yang sedang terjadi dan diperlukan oleh sekitarnya. Dan itulah yang terjadi pada saya.
Betapa tidak. Ketika memutuskan untuk bertani secara organik, terus terang skills dalam dunia itu tidak ada sama sekali. Bersentuhan dengan tanah pertanian pun tak pernah. Apalagi menangani manajemen kandang maupun kolam yang penuh dengan kasus ini dan itu. Jadi sudah bisa ditebak. Jalannya ‘perusahaan baru’ ini sungguh jatuh bangun. Learning by doing istilah kerennya. Tapi diantara jatuh bangun itu, frekuensi jatuhnya lebih sering. Kalau soal bangun, itu keharusan. Walaupun kadang-kadang sempat dilanda frustrasi pula.
Dengan latar belakang seperti itulah usaha dan karya mandiri dijalankan. Setiap hari dituntut belajar. Karena setiap hari, bagi saya, adalah menghadapi kasus baru. Belajar dan belajar tiada henti. Dari hari ke hari dipenuhi dengan eksperimen-eksperimen. Entah sampai kapan berakhirnya.
Dan seperti kata pepatah jawa. Temen iku tinemu. Artinya kurang lebih begini. Jika mengerjakan sesuatu dengan niat dan kesungguhan, maka keberhasilan pun akan diperoleh. Jadi walaupun dipenuhi dengan berbagai persoalan setiap hari, secara perlahan karya idealisme itu bisa berjalan. Meskipun masih pula dengan tersendat dan terseok. Kata para pengusaha, itu lumrah dalam menjalani sebuah usaha (bisa jadi ungkapan itu yang sedikit membesarkan hati saya).
Juga ketika memutuskan menerjuni bidang organik, bukan berarti tanpa resiko. Di kala banyak orang sudah meninggalkan hal-hal yang berjalan lamban, tapi saya justru berniat menekuninya. Yang ada di benak saya hanya, bagaimana kembali ke alam. Bukannya nenek dan kakek moyang sudah melakukannya sejak dulu dan berhasil. Kita saja, yang mengaku sebagai manusia modern, telah diracuni oleh segala hal yang instan. Padahal senyatanya, tidak semua yang instan memberikan efek bagus pada kehidupan.
Karena penuh dengan idealisme di kepala itulah, saya menyebutnya sebagai petani yang egois. Tak perlu melihat kanan dan kiri. Yang terpenting saya berjalan sesuai dengan nurani saya. Tentang hasil yang menggiurkan? Jangan dulu ditanya. Yang jelas, kalau hanya untuk mencukupi kebutuhan dapur sendiri ya masih bisalah. Cabe dan tomat tidak usah beli di pasar. Mau masak ikan tinggal pilih. Ada gurami, lele atau mujair. Ayam dan itik sudah menghasilkan telur. Bisa untuk sarapan pagi kalau dadakan. Kalau ingin makan sedikit mewah, ada unggas yang bisa dipotong. Tak perlu pusing kalau harga-harga di pasar sedang berjingkat-jingkat. Sementara untuk sayuran, di kebun sudah ada bayam, daun pepaya, belimbing sayur, lengkap dengan aneka macam bumbu pelengkapnya. Daun jeruk purut, daun salam, daun pandan dan lain sebagainya, dan lain sebagainya (sedikit pamer nih….)
Buah-buahan juga tak putus ketersediaannya. Pisang yang berbuah sepanjang tahun, masih akan diselingi dengan kehadiran pepaya, jambu biji dan belimbing. Jika musimnya berbuah, mangga, rambutan, dan anggur pun akan tampil di meja makan.
Dan satu lagi. Semua bahan pangan itu organik. Ini yang menjadi nilai lebih. Dan yang tak bisa didapatkan di pasar dengan harga murah. Di jaman kini, banyak orang berlomba-lomba mencari bahan pangan organik. Bahkan rela menebusnya dengan merogoh kocek agak dalam. Tapi bersyukurlah saya, petani yang egois ini, bisa menikmati semuanya itu dengan sangat-sangat murah.
Betul-betul petani egois. Semua hasil jerih payah dinikmati sendiri. Semua diberi label tidak dijual. (rud)
![]() |
| Anggur hitam sedang dipanen. Anggur hijau masih menunggu. |
![]() |
| Mangga gadung |
![]() |
| Mangga gadung ukuran super |
![]() |
| Bayam Organik |
![]() |
| Belimbing wuluh |
![]() |
| Lombok Organik |
![]() |
| Tomat Organik |
Harus Menjadi Petani Organik
Ketika memutuskan untuk bergelut dengan dunia pertanian, peternakan maupun perikanan, kami sudah memilih untuk bergerak di bidang organik. Betapa ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi kami. Tidak hanya sekadar wacana, tapi kami juga dipaksa harus bisa mewujudkannya.
Selama bergerak di bidang media massa, kami (berdua) memang seringkali wawancara sana sini tentang dunia pertanian organik. Tapi di balik itu semua, kami hanya bertindak sebagai supporter atau penggembira. Bercerita tentang kesuksesan Si A. Atau inovasi Si B tentang pupuk organik. Demikian juga ketika Si C menjadi sorotan banyak orang karena kesuksesannya dalam bertani secara organik. Hingar bingar kami mewartakannya. Tapi ironisnya, kami sendiri tak punya aksi nyata dalam hal itu.
Hal yang berbau organik, sekarang ini sudah menggejala. Bahkan sudah menjadi keharusan bagi sebagian besar orang yang sudah menyadari betapa pentingnya akan hal itu. Mereka menyebutnya gaya hidup organik. Masyarakat perkotaan, bisa jadi mempunyai kepedulian yang lebih tentang hal yang satu ini. Mengingat yang dijumpai di kota besar, terutama dalam hal makanan, sudah banyak yang ‘tidak sehat’. Penyakit-penyakit yang aneh bermunculan. Penuaan dini menjadi masalah. Dan angka harapan hidup menjadi lebih kecil.
Kengerian demi kengerian itu pun tak luput hinggap di kepala kami. Sehingga ketika memutuskan untuk menjadi petani, kami menetapkan hati dan berkomitmen untuk mengembangkan sistem organik. Tidak hanya di bidang pertanian. Bahkan kalau memungkinkan di setiap lini kehidupan yang kami lalui.
Tak mudah memang. Katakanlah kami seperti menjungkirbalikkan gaya hidup yang secara tidak sengaja sudah tertata ketika kami hidup di kota metropolis. Penyesuaian berjalan tiada henti. Dan tiap hari ada hal-hal baru yang menuntut kami belajar dan selalu belajar lagi. Tak cukup dengan referensi andalan dari internet dan kerabatnya. Pengalaman kegagalan justru yang membuat kami semakin mengerti dan matang. Memang bicara sangat mudah. Tapi senyatanya ketika dihadapkan pada sebuah kegagalan sesungguhnya, beruntung jika tidak sampai bunuh diri.
Berkomitmen gaya hidup organik membutuhkan ‘kekebalan’ yang luar biasa. Kita dipaksa untuk bersahabat dan bersinergi dengan alam. Natural. Apa adanya. Tanpa rekayasa. Inilah yang susah. Karena pada dasarnya pemikiran kami sudah dicemari oleh hal-hal yang serba instan, dengan hasil yang kelihatan. Sementara untuk hidup ala organik tidak seperti itu.
Waktu seolah berjalan lamban, dan tidak menunjukkan hasil sama sekali. Tapi senyatanya, alam sedang berproses untuk menuju pada sebuah kebaikan. Dari kebaikan itu akan tertata sistem kehidupan yang lebih sempulur sempurna. Selamat menempuh hidup baru….. (rud)
![]() |
| Perintisan pembuatan kolam lele dan gurami |
Langganan:
Komentar (Atom)
Akas Organik : Transformasi dari Bebek Akas
Dunia ini dinamis. Dan mau tak mau, kami pun harus mengikutinya. Tidak harus dengan langkah yang terlalu bergegas. Walaupun hanya setapak...
-
Salah satu komponen penyusun pakan (dengan sistem organik ala Bebek Akas) adalah ampas tahu. Bahan ini menyumbangkan kadar protein tertingg...
-
Tiap-tiap warung, resto, ataupun tempat makan, pastilah punya menu andalan untuk disajikan kepada para tamunya. Kami pun ingin seperti itu....

































