Selama bergerak di bidang media massa, kami (berdua) memang seringkali wawancara sana sini tentang dunia pertanian organik. Tapi di balik itu semua, kami hanya bertindak sebagai supporter atau penggembira. Bercerita tentang kesuksesan Si A. Atau inovasi Si B tentang pupuk organik. Demikian juga ketika Si C menjadi sorotan banyak orang karena kesuksesannya dalam bertani secara organik. Hingar bingar kami mewartakannya. Tapi ironisnya, kami sendiri tak punya aksi nyata dalam hal itu.
Hal yang berbau organik, sekarang ini sudah menggejala. Bahkan sudah menjadi keharusan bagi sebagian besar orang yang sudah menyadari betapa pentingnya akan hal itu. Mereka menyebutnya gaya hidup organik. Masyarakat perkotaan, bisa jadi mempunyai kepedulian yang lebih tentang hal yang satu ini. Mengingat yang dijumpai di kota besar, terutama dalam hal makanan, sudah banyak yang ‘tidak sehat’. Penyakit-penyakit yang aneh bermunculan. Penuaan dini menjadi masalah. Dan angka harapan hidup menjadi lebih kecil.
Kengerian demi kengerian itu pun tak luput hinggap di kepala kami. Sehingga ketika memutuskan untuk menjadi petani, kami menetapkan hati dan berkomitmen untuk mengembangkan sistem organik. Tidak hanya di bidang pertanian. Bahkan kalau memungkinkan di setiap lini kehidupan yang kami lalui.
Tak mudah memang. Katakanlah kami seperti menjungkirbalikkan gaya hidup yang secara tidak sengaja sudah tertata ketika kami hidup di kota metropolis. Penyesuaian berjalan tiada henti. Dan tiap hari ada hal-hal baru yang menuntut kami belajar dan selalu belajar lagi. Tak cukup dengan referensi andalan dari internet dan kerabatnya. Pengalaman kegagalan justru yang membuat kami semakin mengerti dan matang. Memang bicara sangat mudah. Tapi senyatanya ketika dihadapkan pada sebuah kegagalan sesungguhnya, beruntung jika tidak sampai bunuh diri.
Berkomitmen gaya hidup organik membutuhkan ‘kekebalan’ yang luar biasa. Kita dipaksa untuk bersahabat dan bersinergi dengan alam. Natural. Apa adanya. Tanpa rekayasa. Inilah yang susah. Karena pada dasarnya pemikiran kami sudah dicemari oleh hal-hal yang serba instan, dengan hasil yang kelihatan. Sementara untuk hidup ala organik tidak seperti itu.
Waktu seolah berjalan lamban, dan tidak menunjukkan hasil sama sekali. Tapi senyatanya, alam sedang berproses untuk menuju pada sebuah kebaikan. Dari kebaikan itu akan tertata sistem kehidupan yang lebih sempulur sempurna. Selamat menempuh hidup baru….. (rud)
![]() |
| Perintisan pembuatan kolam lele dan gurami |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar