Kamis, 14 Juni 2018

Bebek Toraja : Menu Andalan Bebek Akas

Tiap-tiap warung, resto, ataupun tempat makan, pastilah punya menu andalan untuk disajikan kepada para tamunya. Kami pun ingin seperti itu. Karena peliharaan yang kami punyai adalah bebek, maka kami pun berusaha mewujudkan masakan bebek sebagai ikonnya.  Dengan catatan, menu bebek tersebut harus berbeda dengan yang sudah ada di pasaran . Dan ini memang bukan perkara yang mudah.
Berkecimpung dalam dunia jurnalistik yang cukup lama, membuat kami berdua sering berkunjung ke banyak tempat. Dan ketika berada di suatu daerah, sudah bisa dipastikan kalau kami akan menemui makanan yang enak dan terkenal disitu. Dan yang lebih enak lagi, itu sering kami dapatkan dari jamuan relasi atau kawan yang tinggal di daerah tersebut. Sehingga bisa disimpulkan kalau menu enak itu sudah pasti recommended. Tidak asal pilih tempat makan, yang rasa masakannya belum menentu.
                Maka, dalam mengelola Bebek Akas ini, setidaknya kami bercermin dari beberapa hal yang sudah sempat kami temui di banyak kota dan tempat itu. Yaitu harus bisa menyajikan makanan yang enak, dan tentunya berbeda dengan yang sudah ditawarkan oleh berbagai tempat makan yang ada. Tantangan yang sungguh sangat tidak mudah.
                Satu ikon yang sengaja kami angkat sebagai menu andalan dari Bebek Akas adalah Bebek Toraja. Mengapa kami menamainya demikian?  Senyatanya, ramuan bumbu menu itu memang kami dapatkan dari adik ipar kami, yang asli dari Kota Rantepao, Tana Toraja. Tentang kefavoritan terhadap menu ini pun sudah terbukti pula. Kala ada acara kumpul dengan keluarga besar, masakan yang satu ini selalu tampil di meja makan. Dan selalu berakhir dengan piring kosong alias licin tandas. Berangkat dari situlah, kami lantas ingin membagikan ‘kehebohan rasa’ makanan ini kepada khalayak umum.
                Kami menamainya Bebek Toraja, karena ingin pula memberikan apresiasi dan penghormatan  kepada orang-orang yang berjasa dalam meramu, menemukan danmengembangkan bumbu ini. Yang jelas, di Toraja sana, menu yang seperti ini sudah jamak ditemui. Tapi karena harus tampil disini, maka menunya sudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada disini. Maka dari itu kami mengklaimnya sebagai menu Bebek Toraja by Bebek Akas.   
                Meskipun demikian, bumbu toraja yang kami tampilkan tidak terlalu banyak bergeser dari aslinya. Hanya sedikit penyempurnaan. Yang menjadi ciri khasnya adalah bumbu yang kaya dengan rempah-rempah. Dominasi bahan serai dan lengkuas sungguh berasa. Selain paduan keharuman jahe, daun jeruk purut dan daun salam, masih pula didukung oleh cabe giling yang lumayan aduhai tingkat kepedasannya.
                Secara visual, bumbu ini memang  kurang menarik. Hanya berwarna kuning kemerahan, karena efek dari kunyit dan cabe giling. Namun untuk pemuja makanan pedas, bisa jadi menu toraja ini merupakan pilihan yang tepat. Sekali menyuapkan nasi hangat yang sudah dicampur sedikit bumbu, suapan berikutnya seolah tak tertahankan. Selalu menerbitkan air liur jika membayangkannya, walaupun dimakan tanpa disertai daging bebek pun. Sungguh, inilah makanan nikmat.
                Satu lagi yang menjadi pembeda di menu ini. Yaitu potongan daging bebeknya dibikin kecil-kecil. Sementara yang umum dijumpai di sini, seekor bebek biasa dibagi menjadi empat bagian. Jadi jangan berharap menemukan daging bebek dalam potongan besar kalau memesan menu toraja ini. Karena dibikin potongan kecil itu ada pula kelebihan yang didapatkan. Dagingnya menjadi sangat empuk, dan bumbunya sungguh meresap. Padahal selama ini ada sebuah stigma yang kurang enak, yang mengatakan bahwa daging bebek itu alot. Kadang-kadang juga berbau amis atau ‘lebus’.  Di menu bebek toraja, semua stigma buruk itu ditepis dan dilibas habis.
                Ada satu kebiasaan lucu dan unik yang kerap kami lakukan tanpa tersadari. Terjadinya setiap kali saya selesai membuat bumbu toraja. Ketika bumbu yang tanak sudah ditempatkan didalam suatu wadah, bekas wajan untuk menumis bumbu tersebut langsung diberi nasi. Dicampurlah nasi tersebut dengan sisa bumbu yang lengket di wajan. Tanpa memindahkannya ke piring, nasi dari wajan itu langsung berpindah ke perut. Hhhhmmm, nikmatnya tak terkira. Meskipun hampir setiap hari membuat dan bertemu dengan bumbu toraja, tapi hingga detik ini, saya dan suami belum pernah merasa bosan dengan sensasinya yang tak tergambarkan dengan kata-kata. Maka, cobalah menu bebek toraja milik Bebek Akas ini. (phi)

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akas Organik : Transformasi dari Bebek Akas

Dunia ini dinamis. Dan mau tak mau, kami pun harus mengikutinya. Tidak harus dengan langkah yang terlalu bergegas. Walaupun hanya setapak...