Sebelum berangkat menjemput sekolah si sulung Bram, suami saya berpesan untuk menitip beli koleridin, treatment untuk kolera unggas. Sepulang dari poultry shop, saya membuka-buka free magazine dari Medion yang saya ambil tadi. Mata saya langsung tertambat pada kolom salam redaksi, dengan judul berhuruf kapital dan diblok warna merah. Harga Pakan Naik. Gara-garanya karena badai topan Elnino.
Hhmmm… dalam hati saya tersenyum. Ini namanya anugerah untuk kami. Bagaimana tidak. Di saat banyak petani (peternak) dibuat bingung dan susah dengan harga pakan yang terus melambung, kami tidak ikut-ikutan terkena dampaknya? Mengapa begitu? Ya, karena kami menerapkan sistem organik.
Bebek, ayam, dan ikan-ikan yang kami pelihara tidak pernah mengenal pakan pabrikan, yang notabene berharga lumayan mahal (menurut ukuran kantong kami). Betapa tidak. Kalau saja boleh berhitung, untuk sekarang ini, satu sak pellet untuk lele, seberat 25 kg, harganya sekitar 250-300 ribu. Itu pun habis dalam waktu 10-14 hari. Jadi dalam sebulan harus mempunyai stok 3 karung. Secara kasar sudah kelihatan uang yang harus dikeluarkan sebesar 750-900 ribu. Padahal paling tidak perlu waktu 3 bulan untuk panen lele. Belum lagi kalau masih ditambah hitungan untuk pakan yang harus diberikan pada bebek dan ayam. Yah, silakan dikalkulasi sendiri.
Kembali lagi ke soal kolom salam redaksi tadi. Disitu dijelaskan kalau harga pakan melambung cukup tinggi karena bahan-bahan untuk pembuatan pakan tersebut masih didatangkan dari negerinya Paman Sam. Akibat badai Elnino, tanah pertanian yang ditanami jagung banyak yang tidak menghasilkan. Demikian juga dengan ketersediaan tepung ikan yang kian sulit didapat. Banyak perahu tidak bisa melaut karena angin besar itu.
Sekali lagi kami bersyukur (semoga tidak menjadikan kami takabur) dengan kenyataan ini. Terus terang, untuk pakan kami memang berusaha sebisa mungkin memanfaatkan sumberdaya yang kami miliki sendiri. Namun bukan berarti kami mau semuanya gratisan. Tidak. Di kebun belakang banyak pohon pisang. Biasanya setelah berbuah, pohonnya ditebang. Inilah yang kami manfaatkan sebagai pakan untuk bebek. Belum lagi keberadaan tanaman keladi yang lumayan banyak. Itu juga bisa sebagai alternatif sumber bahan pakan.
Dengan beberapa pedagang di pasar, kami membina hubungan baik dan timbal balik. Antara lain dengan penjual ikan, ayam dan sayuran. Dari mereka kami mendapatkan sampah ikan, ayam dan sayuran secara gratis. Mereka merasa sangat terbantu karena dengan begitu mengurangi kewajibannya untuk membuang sampah ke tempat khusus. Bahkan kalau ada dagangan ikan yang rusak dan tidak layak konsumsi, kami selalu mendapatkan tawaran terlebih dahulu. Dan bisa membelinya dengan harga sangat murah. Dua pabrik tahu yang berdekatan dengan tempat tinggal kami juga menjadi mitra, untuk memperoleh ampas tahu. Begitu juga dengan dedak, bisa kami beli dengan harga miring, langsung dari penggilingan padi.
Sumber-sumber itulah yang kami olah sedemikian rupa. Tentu saja dengan tidak mengurangi perhatian pada komposisi pakan yang seharusnya. Tetap proporsional memperhatikan asupan karbohidrat dan protein. Yang pasti, pakan selalu fresh, segar, karena langsung berasal dari pasar setiap hari. Dan lagi, semua bahan itu dimasak terlebih dahulu sebelum disajikan kepada para unggas dan ikan. Sehingga mengurangi resiko penyakit pada peliharaan.
Hasilnya? Luar biasa. Seorang kawan yang sempat bertandang ke rumah sempat terheran-heran. “Walah, bebekmu cik gedene. Meneh iki doromu kok lemu pisan.” (Walah, bebek kepunyaanmu ukurannya besar sekali. Apalagi burung dara ini, juga gemuk). Kami pun tertawa lebar. Sepasang burung dara (yang entah dari mana datangnya) dan tinggal menetap di atas pohon mangga, selalu terbang turun kala kami sedang meramu pakan. Mungkin hidungnya mencium bau-bau enak. Dan selalu hinggap di bak pakan, menjadi penikmat perdananya. (phie)
![]() | |
|
![]() | |
|


Tidak ada komentar:
Posting Komentar