![]() |
| Tampilan lengkap Nasi Jagung Mak Lilik Pasar Legi Jombang |
Entah sudah berapa kali saya makan hidangan 'ndeso' ini. Yang jelas sudah lebih dari jumlah jari yang melengkapi dua tangan. Untuk mendapatkannya pun harus melalui sebuah perjuangan tersendiri. Alias antrinya yang mana tahan. Jam bukanya pun sangat singkat. Mulai menggelar dagangan sekitar jam 6 sore. Dan sudah menutup lapaknya ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Tak jarang pula, sudah harus tutup sebelum jam tersebut.
Senyatanya, bentuk sajian olahan tangan Mak Lilik (76 tahun) ini tidaklah kelihatan mewah. Hanyalah nasi jagung, yang bisa dicampur nasi putih, tergantung selera pembeli, yang dilengkapi dengan beberapa 'ubarampe'nya. Antara lain sambal tumpang yang luar biasa pedas, sayur lodeh dengan bahan berganti-ganti setiap harinya, urap daun singkong dan pepaya, lalapan lamtoro dan krai yang dicacah, serta rempeyek teri atau ikan asin yang dikenal sebagai 'klotok'.
Yang membuat hidangan ini sangat berbeda adalah pada kelembutan nasi jagungnya. Unsur nasi jagungnya menyatu, punel, alias tidak berhamburan. Begitu juga dengan rempeyeknya. Jangan membayangkan jenis rempeyek tipis seperti yang umum dijumpai dalam rangkaian nasi pecel. Rempeyek ala Mak Lilik ini justru tebal dan keras. Ukurannya pun relatif lebar, dengan isian seekor ikan klotok di tengahnya. Walaupun tampilannya keras saat digigit, tapi uniknya rempeyeknya justru yang bikin kangen. Selidik punya selidik, ternyata rempeyeknya ini terbuat dari campuran tepung tapioka dan tepung jagung. Bukan dari tepung beras.
Lokasi jualan Mak Lilik memang sangat sederhana. Hanya memanfaatkan emperan ruko di kompleks Pasar Legi Jombang, dan gelaran dua buah meja yang tidak terlalu besar. Kalau hendak makan di tempat, cukup dengan lesehan di atas tikar yang ada. Tapi percayalah, tampilan kesederhanaan itu jauh terbayar dengan rasa yang aduhai mantap. Pun dengan pedasnya yang menggigit lidah, dan bisa mengoyak ketenangan perut bagi yang sensitif dengan rasa cabe.
Perjalanan panjang Mak Lilik dalam membesarkan nasi jagung ini bermula pada tahun 1997. Yaitu dengan membuka lapak kecil di Pasar Peterongan, Jombang, pada malam hari. Awal berjualan, tidak seramai sekarang. Bahkan tak jarang dagangan yang tak habis harus dibuang. Namun sosok Mak Lilik pantang menyerah, ia tetap konsisten di jalur yang sudah menjadi keyakinannya. Tanpa kenal lelah dan tiada henti, karena tidak punya hari libur, terus mengenalkan produk yang dipunyai.
Tahun 2011 Mak Lilik melebarkan sayap ke wilayah Jombang kota, dengan mencari tempat di Pasar Legi. Lapak yang berada di Pasar Peterongan diserahkan kepada anak perempuannya, yang juga masih eksis hingga kini. Jam operasionalnya pun sama. Dimulai sehabis magrib.
Seporsi nasi jagung ini hanya dibanderol dengan harga 5 ribu rupiah. Tapi porsi yang didapat sungguhlah tidak setara dengan harganya. Saya terus terang tidak sanggup menghabiskannya dalam sekali makan. Sehingga solusinya adalah membagi dua, separuh saya simpan. Besok paginya dihangatkan lagi. Walaupun begitu, tak mengurangi 'kelekohannya' (saya kurang bisa memadankan istilah 'lekoh' ke dalam Bahasa Indonesia).
Dan, bisa disebut bahwa nasi jagung ini merupakan salah satu rujukan kuliner malam di kota Jombang, yang namanya cukup melegenda.
Terbukti, malam itu, saat saya menyambangi lapak Emak di sekitaran jam 9 malam, lesehannya penuh dengan pengunjung. Entah dari wilayah Jombang bagian mana, para bapak-bapak bersarung dan berkopiah itu sedang asyik menikmati nasi jagung, diatas piring plastik yang dialasi daun pisang. Mereka datang serombongan, dengan mengendarai sebuah mobil bak terbuka. (phie)
![]() |
| Pengunjumgmya dari berbagai kalangan |
![]() |
| Mak Lilik tetap sehat dan bersemangat bekerja |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar