Salah satu komponen penyusun pakan (dengan sistem organik ala Bebek Akas) adalah ampas tahu. Bahan ini menyumbangkan kadar protein tertinggi, selain dari komponen ikan rucah. Karenanya ketersediaan ampas tahu ini harus selalu berjalan berkesinambungan.
Untuk mendapatkan ampas tahu memang tidak bisa setiap hari. Walaupun tempat tinggal kami tidak terlalu jauh dari pabrik tahu, tapi harus menyediakan waktu khusus untuk berangkat kesana. Karenanya dijadwalkan dalam seminggu hanya dua kali pengambilan.
Untuk menyiasati agar ampas tahu bisa bertahan hingga tiga hari, maka perlu membuang kadar air yang masih terkandung di dalam ampas. Awalnya kami hanya memerasnya secara manual dengan tangan. Ampas dibungkus dengan kain, kemudian dikeluarkan airnya. Seperti layaknya memeras cucian. Hehehe… sangat manual (saya suka tersenyum sendiri kala mengingatnya). Dan tentu saja hasil yang didapatkan pun tidak maksimal sama sekali.
Kemudian ada pikiran untuk membuat semacam alat pres. Prinsipnya, ampas dibungkus dengan kain, kemudian dipres diantara dua papan. Hasilnya ampas menjadi sangat lebih kering. Tapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah kapasitas produksi yang tidak bisa terpenuhi. Karena papan presnya yang terlalu kecil. Dan untuk melakukan pekerjaan memeras ampas itu butuh waktu yang relatif lama.
Akal pun berkembang. Untuk menyingkat waktu dan mempermudah pekerjaan, atas prakarsa Bapak pula, kami membuat alat pres khusus dengan kapasitas yang lebih besar. Dibuat dari drum bekas, yang diinstalasi sedemikian rupa, sehingga menghasilkan alat pres yang sangat lebih memadai hasil produksinya. Dalam sekali kerja, setidaknya sudah bisa menghasilkan 20 kg ampas kering. Luar biasa kemajuannya.
![]() |
| Alat pres ampas tahu sederhana |
![]() |
| Dengan alat ini bisa menghasilkan minimal 20 kg ampas tahu kering |
Ampas kering yang dihasilkan itu akan berumur lebih panjang dengan fermentasi. Selain itu, ada keuntungan lain yang didapatkan dari perlakuan fermentasi. Protein yang terkandung di dalam ampas tahu akan dipecah-pecah menjadi komponen yang lebih sederhana lagi. Dengan begitu, akan lebih mudah dicerna oleh bebek maupun ayam. Penyerapan nutrisi pun berjalan maksimal.
Untuk perlakuan fermentasi gampang saja. Alat yang diperlukan hanya ember yang mempunyai tutup rapat. Perlu ada sedikit lubang saja pada tutupnya. Saya menggunakan ember bekas cat. Satu ember bisa menyimpan kurang lebih 10 kg ampas kering.
Setelah ampas tahu dipres, harus dibuat lepas. Hambur. Tidak boleh ada yang lengket satu sama lain. Untuk ragi, saya menggunakan ragi tape. Bisa merk apa saja. Tapi yang sering ditemui di pasar adalah NKL atau jalak. Untuk 10 kg ampas kering, diperlukan 7-8 butir ragi. Ragi dihaluskan dulu, kemudian ditaburkan ke atas ampas dan dicampur hingga merata.
![]() |
| Ampas tahu yang sudah kering |
![]() |
| Ampas yang sudah diragi diperam selama minimal dua hari |
![]() |
| Tutup ember diberi lubang sedikit saja |
Ampas yang sudah diragi dibiarkan dalam kondisi tertutup paling sedikit 2 hari, sebelum diberikan untuk pakan. Saat menyimpan ampas tidak boleh dipadatkan. Ciri jika proses fermentasi berhasil, akan mengeluarkan wangi seperti tape. Kondisi ampas tahu menjadi hangat. Yang perlu diperhatikan, ampas hasil fermentasi untuk pakan tidak boleh berumur lebih dari empat hari. Karena akan berair dan baunya sangat menyengat.
Dan menurut pengalaman saya, jika ampas tahu difermentasikan dahulu, bisa menambah nafsu makan pada bebek dan ayam. Hhhmmmm……lantas saya menyama-nyamakan dengan diri saya. Bila membayangkan tempe yang baru saja diangkat dari penggorengan. Atau tape ketela pohon yang legit. Tak pelak air liur ini rasanya sudah menggantung di sudut bibir. Sama-sama produk fermentasi kan? (rud)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar