Kamis, 14 Juni 2018

Petani Egois

Egois mempunyai arti hanya mementingkan dan memikirkan diri sendiri. Jadi pengertian tentang petani egois adalah petani yang hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa mau tahu apa yang sedang terjadi dan diperlukan oleh sekitarnya. Dan itulah yang terjadi pada saya.
                Betapa tidak. Ketika memutuskan untuk bertani secara organik, terus terang skills dalam dunia itu tidak ada sama sekali. Bersentuhan dengan tanah pertanian pun tak pernah. Apalagi menangani manajemen kandang maupun kolam yang penuh dengan kasus ini dan itu. Jadi sudah bisa ditebak. Jalannya ‘perusahaan baru’ ini sungguh jatuh bangun. Learning by doing istilah kerennya. Tapi diantara jatuh bangun itu, frekuensi jatuhnya lebih sering. Kalau soal bangun, itu keharusan. Walaupun kadang-kadang sempat dilanda frustrasi pula.
                Dengan latar belakang seperti itulah usaha dan karya mandiri dijalankan. Setiap hari dituntut belajar. Karena setiap hari, bagi saya, adalah menghadapi kasus baru. Belajar dan belajar tiada henti. Dari hari ke hari dipenuhi dengan eksperimen-eksperimen. Entah sampai kapan berakhirnya.
                Dan seperti kata pepatah jawa. Temen iku tinemu. Artinya kurang lebih begini. Jika mengerjakan sesuatu dengan niat dan kesungguhan, maka keberhasilan pun akan diperoleh. Jadi walaupun dipenuhi dengan berbagai persoalan setiap hari, secara perlahan karya idealisme itu bisa berjalan. Meskipun masih pula dengan tersendat dan terseok. Kata para pengusaha, itu lumrah dalam menjalani sebuah usaha (bisa jadi ungkapan itu yang sedikit membesarkan hati saya).
                Juga ketika memutuskan menerjuni bidang organik, bukan berarti tanpa resiko. Di kala banyak orang sudah meninggalkan hal-hal yang berjalan lamban, tapi saya justru berniat menekuninya. Yang ada di benak saya hanya, bagaimana kembali ke alam. Bukannya nenek dan kakek moyang sudah melakukannya sejak dulu dan berhasil. Kita saja, yang mengaku sebagai manusia modern, telah diracuni oleh segala hal yang instan. Padahal senyatanya, tidak semua yang instan memberikan efek bagus pada kehidupan.
                Karena penuh dengan idealisme di kepala itulah, saya menyebutnya sebagai petani yang egois. Tak perlu melihat kanan dan kiri. Yang terpenting saya berjalan sesuai dengan nurani saya. Tentang hasil yang menggiurkan? Jangan dulu ditanya. Yang jelas, kalau hanya untuk mencukupi kebutuhan dapur sendiri ya masih bisalah. Cabe dan tomat tidak usah beli di pasar. Mau masak ikan tinggal pilih. Ada gurami, lele atau mujair. Ayam dan itik sudah menghasilkan telur. Bisa untuk sarapan pagi kalau dadakan. Kalau ingin makan sedikit mewah, ada unggas yang bisa dipotong. Tak perlu pusing kalau harga-harga di pasar sedang berjingkat-jingkat. Sementara untuk sayuran, di kebun sudah ada bayam, daun pepaya, belimbing sayur, lengkap dengan aneka macam bumbu pelengkapnya. Daun jeruk purut, daun salam, daun pandan dan lain sebagainya, dan lain sebagainya (sedikit pamer nih….)
                Buah-buahan juga tak putus ketersediaannya. Pisang yang berbuah sepanjang tahun, masih akan diselingi dengan kehadiran pepaya, jambu biji dan belimbing. Jika musimnya berbuah, mangga, rambutan, dan anggur pun akan tampil di meja makan.
                Dan satu lagi. Semua bahan pangan itu organik. Ini yang menjadi nilai lebih. Dan yang tak bisa didapatkan di pasar dengan harga murah. Di jaman kini, banyak orang berlomba-lomba mencari bahan pangan organik. Bahkan rela menebusnya dengan merogoh kocek agak dalam. Tapi bersyukurlah saya, petani yang egois ini, bisa menikmati semuanya itu dengan sangat-sangat murah.
                Betul-betul petani egois. Semua hasil jerih payah dinikmati sendiri. Semua diberi label tidak dijual. (rud)

Anggur hitam sedang dipanen. Anggur hijau masih menunggu.

Mangga gadung

Mangga gadung ukuran super

Bayam Organik

Belimbing wuluh

Lombok Organik

Tomat Organik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akas Organik : Transformasi dari Bebek Akas

Dunia ini dinamis. Dan mau tak mau, kami pun harus mengikutinya. Tidak harus dengan langkah yang terlalu bergegas. Walaupun hanya setapak...