Kamis, 14 Juni 2018

Karya Nyata itu Bernama Bebek Akas

Bebek Akas. Nama itu spontan saja muncul di kepala. Mengapa pakai nama itu? Alasannya sederhana saja. Karena saya adalah anaknya Pak Pantoro Akas, pelontar ide untuk memelihara bebek. Beliaulah yang mendukung semua kegiatan usaha kami di bidang pertanian organik. Ide dan saran seringkali terlontar dari Bapak, begitu kami menyapa beliau, untuk keluar dari masalah yang selalu kami hadapi. Dari pengalamannya kami banyak belajar tentang ‘kembali ke alam’. 

Bapak, yang seorang pendidik hingga di akhir masa pensiun, memang terlahir dari keluarga petani biasa. Ayahnya (embah kakung saya), Yesaya Akas, seorang petani yang sederhana di Segaran, sebuah desa kecil di wilayah Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Namun dari hasil pertaniannya itu (dan pastinya pertanian organik), bisa mengangkat 12 orang anaknya menjadi ‘orang’. Sungguh luar biasa….. Demikian juga dengan ayahnya embah kakung saya (buyut saya), Asikiyo Akas. Juga seorang petani tulen. Yang luas lahan garapannya, entahlah tak terhitung. Sehingga, kalau saya boleh bangga, saya punya garis darah keturunan petani handal. Maka sekarang saya harus bisa mewujudkan ide pertanian organik. 


Diawali dengan membuat kolam lele dan gurami. Hingga merambah ke dunia peternakan bebek dan ayam, dan pengolahan hasilnya. Disamping terus mengembangkan pertanian organik bertanam cabai, dan memelihara tanaman lain yang memang sudah ada sebelumnya. Bisa dikatakan, bahwa usaha ini sebenarnya sudah terlebih dulu diawali oleh Bapak. Tapi karena hanya didasarkan pada hobi semata, dan untuk mengisi waktu senggangnya ketika sudah pensiun, pengelolaannya jadi kurang optimal. 

Maka jadilah. Diatas lahan yang hanya seluas 600 meter persegi, kami pun mulai menata ulang segala sesuatunya. Waktunya sungguh tidak singkat. Dan namanya saja perjuangan. Keringat dan air mata silih berganti menghiasi. Itulah manisnya cerita ketika sudah berhasil nantinya. Tapi untuk sekarang yang penting bekerja, bekerja, bekerja dan berdoa. 


Pekerjaan yang dilakoni pun tak sedikit. Mulai dari mengurus kolam, menata kandang dan mencukupi suplai pakan untuk bebek dan ayam, pengelolaan tanah dan sampah rumah tangga untuk pupuk, hingga pengolahan pasca panen. Semua berusaha kami lakukan sendiri. Istilahnya usaha hulu hilir digarap semua. Itulah mengapa semboyannya adalah kerja, kerja dan kerja. Ya, karena memang banyak yang harus dikerjakan. Kalau satu bagian pekerjaan tidak dikerjakan, akan menghambat kerja bagian yang lain. Karena semuanya ada saling keterkaitan. 


Ketika urusan perawatan hingga panen bisa teratasi. Dalam arti apa yang dipelihara sudah menghasilkan, yang menjadi pergumulan selanjutnya adalah pemasarannya. Tak pernah terpikir oleh saya sebelumnya, kalau sang petani benar-benar tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Maksudnya begini. Ketika akan menjual hasil panen, harga yang dibayarkan kepada petani adalah harga yang ditentukan oleh pembeli, dalam hal ini bisa tengkulak atau pengepul. Sang petani sendiri tak berdaya menentukan harga jual produknya sendiri. Ironis bukan?


Sekali waktu, pernah kami menjual beberapa ekor hasil panen bebek ke pasar unggas. Untuk mengetes harga pasar. Perkiraan kami, seekor bebek bisa laku sekitar 35 ribu. Tapi kenyataan yang kami dapati, bebek-bebek itu hanya ditawar 20 ribu per ekor. Paling besar malah hanya ditawar 22 ribu. Padahal berat bebek kami ada di kisaran 1-1,5 kg per ekor. Kami berdalih kalau bebek kami adalah bebek organik. Tapi jawabannya apa? “Kalau tidak mau harga segitu ya dibawa pulang saja bebeknya.” Hhhhhhmmm…. Sang petani harus berbuat apa? Tapi sebaliknya, dengan ukuran yang sama seperti bebek kami, pedagang unggas menjual kembali dengan harga 30-35 ribu per ekor. 

Lain waktu ganti panen lele. Kasusnya hampir sama. Kami ke pasar dulu mencari pembeli. Disepakati, pedagang mau dengan harga beli 13 ribu per kilo. Kami pun pulang, menguras kolam lele, dan membawanya ke pasar. Sampai di tempat, setelah melihat barangnya, lele kami pun dibeli dengan harga 12 ribu per kilo. Dengan dalih lele kami tidak seperti bayangannya. Harga itu pun hanya untuk lele yang berukuran besar, yang jumlahnya hanya beberapa kilo. Sedangkan sisanya hanya dihargai 11 ribu per kilonya. 


Parahnya lagi, saat kami masih bertransaksi itu, sudah datang pembeli. Pedagang lele itu pun menawarkan lele kami. Tanpa melihat ukuran besar kecilnya, dijuallah dengan harga 20 ribu, bahkan lebih, per kilonya. Dalam hati, kami sangat sangat dongkol. Dan lebih menyakitkan lagi, di pasar tidak berlaku aturan ini bahan pangan organik atau bukan organik.  Semua dipukul rata. Nah bisa dibayangkan bagaimana kerja keras dan idealisme tentang bahan pangan organik, dipatahkan oleh pasar begitu saja. 

Belajar dari situlah, kami bertekad untuk mengolah sendiri hasil panen kami. Tentu saja dengan sangat mengedepankan label organik. Karena memang itulah tujuan utama kami. Dimulai dengan membuat olahan daging ayam dan bebek organik. Kemudian disusul dengan lele dan gurami. 


Terakhir, kami sedang bereksperimen dengan telur asin bebek yang diberi berbagai macam perlakuan. Seperti diasap, dipanggang, dibakar ataupun diberi beberapa rasa. Dan yang pasti, label telur organik terus melekat.

Untuk pengolahan hasil pasca panen, Bebek Akas menjadi wadahnya. Walaupun sekarang ini sistem penjualan masih secara online, dan masih terbatas wilayah edarnya, tapi kami sangat percaya bahwa apa yang kami idealismekan ini sedikit demi sedikit menampakkan hasilnya. Bebek Akas menjadi tumpuan harapan. Kami menggantung cita-cita dan mimpi bersamanya.  (phie)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akas Organik : Transformasi dari Bebek Akas

Dunia ini dinamis. Dan mau tak mau, kami pun harus mengikutinya. Tidak harus dengan langkah yang terlalu bergegas. Walaupun hanya setapak...