Falsafah-falsafah itu berusaha kami pegang dan hayati, walaupun sekarang ini Bapak sudah berada di Rumah Tuhan. Dan Bebek Akas, yang bergerak di lingkup kuliner, setidaknya juga harus memenuhi spirit itu. Tak jauh berbeda dengan nafas pertanian, perikanan dan peternakan, yang mengedepankan label organik.
Bapak sendiri, gaya hidupnya sungguh-sungguh sehat dan tidak merokok. Ketika dipanggil Tuhan, beliau berusia 76 tahun. Selama rentang waktu itu, Bapak tidak pernah sakit yang sangat berarti. Paling-paling langganan tensi yang meninggi (karena faktor usia). Itupun cukup diredam dengan jus belimbing (yang biasa dipetik dari halaman belakang), dan hobinya makan lalapan ketimun. Sayuran dan buah-buahan menjadi santapan sehari-harinya. Jarang sekali mengonsumsi daging merah (daging sapi). Daging kambing menjadi musuh terbesarnya. Lebih memilih daging unggas dan ikan.
Saking sehatnya, ketika ada kabar Bapak meninggal, banyak tetangga yang terkejut. Seminggu sebelum akhir hayatnya, tidak menunjukkan firasat apa-apa. Hanya gara-gara batuk, lalu masuk rumah sakit, dan didiagnosa jantungnya membengkak. Seminggu di rumah sakit kesadarannya terus menurun, hingga akhirnya tepat tanggal 16 Maret 2015, kami harus merelakan Bapak pergi menghadap Sang Khalik.
Gaya hidup sehatnya itulah yang membuat kami terlecut untuk meneruskan semangatnya. Setidaknya dengan kehadiran Bebek Akas, semangat dari Bapak itu terus hidup dan akan menghidupi usaha ini. (phie)
![]() | |
|
![]() | |
|
![]() |
| Franciscus Radcliff Bramantyo Akas dan Franciscus Reinhardt Bhima Prasetya Akas keduanya junior dari Julianus Franciscus Rudianto & Francisca Puji Wismaningtyas Akas |
![]() | |
|




Tidak ada komentar:
Posting Komentar