Kamis, 14 Juni 2018

Sistem Organik Harus Berani Kotor

Sedikit nyontek kredo iklan sebuah deterjen yang merknya sudah ngetop di Indonesia. Berani kotor itu baik. Saya sangat setuju dengan ungkapan kredo itu. Yang jelas, jika ungkapan itu diaplikasikan pada metode organik yang kami anut, maka sungguh klop dan klik.
                Produk bahan pangan organik, terutama di kota-kota besar, untuk sekarang ini menjadi sebuah barang mahal. Tingginya penghargaan konsumen (yang mengerti tentang sistem organik) tak lepas dari proses dan pemeliharaan yang memang tidak mudah. Selain pula waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil (panen) relatif lebih lama.   
                Dalam metode organik banyak hal yang dibiarkan terjadi alami begitu saja. Tanpa perlakuan dan tanpa rekayasa. Karenanya tak berlebihan jika kami mengatakan kalau bertani (atau beternak) ala organik itu harus mau sedikit repot dan berani bermain dengan yang kotor-kotor. Gambarannya mungkin seperti ini. Jika peternak yang tak mau repot, maka peliharaannya cukup diberi makan pellet atau makanan pabrikan. Cukup ambil pakan kering dari dalam karung, distribusikan, beres sudah. Tinggal menyesuaikan dengan jadwal pemberian pakan, berapa kali dalam sehari. Praktis.

Suplai sayur-sayuran langsung dari pasar

               Coba bandingkan dengan yang kami lakukan. Bahan mentah kami dapatkan dari pasar. Kita pilah antara ikan rucah dan sisa dari pedagang ayam. Sedangkan sayuran dicacah dalam ukuran kecil. Setelah itu dicuci dan dimasak dulu. Ketika ikan atau sayur sudah mendidih, dicampur dengan ampas tahu atau dedak atau slamper (gilingan bonggol jagung) atau bahan lainnya. Setelah itu baru didistribusikan ke kandang bebek, ayam dan kolam ikan.  

                Ribet? Sudah pasti. Kotor? Tentu saja. Sebab harus bergulat dulu dengan ikan (yang baunya amis) dan sayur-sayur yang terkadang sudah ada beberapa bagian yang membusuk. Tapi dari segi keamanan makanan, kami lebih dari segala-galanya jika dibandingkan dengan pakan kering pabrikan yang masa simpannya pasti sudah lebih dari dua hari (saya berani taruhan untuk hal ini). Sementara pakan ramuan sendiri, langsung habis dalam sekali makan. Tak bersisa. Sehingga tiap kali pakan hendak disajikan selalu ‘fresh from the pawon’ (karena kami memasaknya dengan tungku atau luweng, seperti di dapur embah saya dulu).
Fresh from the pawon yang sebenar-benarnya
                Begitulah salah satu konsekuensi dari sistem organik. Repot memang. Tapi kami tak menyesal, karena kami tahu apa yang kami lakukan itu sesuai dengan idealisme kami. Tentang penghargaan? Terserahlah kepada mereka yang menilainya. Yang jelas, semakin hari akan semakin banyak orang yang sadar bahwa gaya hidup organik lebih menyehatkan. Dan kami sudah memulainya. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan di lingkungan sendiri dulu, sebelum beranjak pada produksi massal. Semoga. (rud)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akas Organik : Transformasi dari Bebek Akas

Dunia ini dinamis. Dan mau tak mau, kami pun harus mengikutinya. Tidak harus dengan langkah yang terlalu bergegas. Walaupun hanya setapak...