Lagu yang dinyanyikan oleh Ebiet itu sungguh menjadi sebuah inspirasi bagi saya. Bukan hendak menyama-nyamakan cita-cita dengan lirik lagu itu. Tapi memang demikianlah senyatanya keinginan saya, ketika memutuskan untuk berhenti dari kegiatan dunia jurnalistik yang telah saya kecimpungi selama paling tidak hampir 20 tahun.
Menjadi seorang wartawan (begitulah sebutan kerennya), memang menyenangkan dan mengasyikkan. Bahkan gara-gara itu, seringkali membuat lupa untuk menata hidup diri sendiri. Bertemu dengan banyak orang dan travelling ke berbagai tempat secara gratis (karena semua aspek kehidupan ditanggung oleh kantor selama bertugas), bisa jadi merupakan angan-angan sebagian besar orang. Dan sebagai wartawan itu semua dapat diperoleh dengan mudahnya, walaupun nanti ketika pulang harus membuat laporan ini dan itu.
Sebuah keputusan besar harus saya ambil. Dengan tekad bulat, saya mengundurkan diri dari dunia yang selalu dipenuhi dengan tantangan itu. Meninggalkan kehidupan kota metropolis, dan memilih tinggal di desa untuk menjadi seorang petani. Mungkin tidak sedikit orang yang tersenyum (entah senyum sinis atau senyum terheran-heran) dengan keputusan saya tersebut. Tapi biarlah. Setidaknya karya mandiri yang hendak saya rintis itu dimulai dengan iringan senyum banyak orang.
Bayangan saya bahwa pekerjaan menjadi petani itu gampang dan tidak memerlukan intelektualitas yang tinggi, ternyata salah besar. Kalau boleh saya bilang, pekerjaannya sungguh lebih berat daripada dulu ketika saya harus memimpin penerbitan lima macam media. Saya pun jadi berpikir, bagaimana jadinya nasib penduduk kota metropolis kalau semua petani menjadi egois, tak mau menjual hasil panennya dan hanya untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Saya pun bergidik ngeri. Semoga tidak terjadi.
Dan sebagai petani, saya punya bonus satu lagi. Sekarang saya sudah tidak pernah lagi menderita sariawan. Penyakit langganan itu biasanya datang bersama-sama memenuhi setiap dinding mulut, ketika saya diserang stres. Yah, bagaimana tidak begitu. Dalam satu minggu saya harus memikirkan lima headline untuk lima media. Dan masing-masing bidangnya tidak berkaitan.
Dari dalam rumah, sayup-sayup terdengar suara istri saya sedang bernyanyi dengan dua jagoan kecil saya.
‘Bapak tani punya kandang, besar…besar…besar….
Di kandang ada bebeknya, besar…besar….besar…..
Sana kwek-kwek, sini kwek-kwek, semua bunyi kwek-kwek…………’
Lamunan saya di kandang pun pecah seketika. Mungkin karena mendengar bunyi kwek-kwek itu, para bebek pun berkwek-kwek bersama-sama. Alias minta jatah makan siang itu. Tunggu sebentar ya, bek……… (rud)
![]() |
| Anak petani, diajarkan kerja keras sejak dini |
![]() |
| Harus bekerja ekstra keras untuk memetik hasil |
![]() |
| Petani dan anaknya |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar